[close]

Archive for the “Renungan” Category

Bekal Hidup: Sabar dan Syukur

Bekal Hidup: Sabar dan Syukur

Dua kata di atas merupakan kata yang sering diucapkan dan disarankan  jika seseorang mendapatkan nikmat atau musibah. Sesungguhnya dua kata itu adalah pasangan sikap yang digolongkan sebagai salah satu bekal hidup seorang muslim dalam mengarungi kehidupan. Namun sering kali kedua kata itu mengalami banyak pengurangan makna sehingga artinya menyempit. Dengan membawa arti yang telah menyempit itu, seseorang menjadi lupa akan fungsinya sebagai bekal hidup, padahal hidup  itulah sebenar-benarnya cobaan. Jika nafas terakhir telah dihembuskan, maka cobaan itu baru telah berakhir.

Jika hidup itu merupakan cobaan, maka cobaan dalam kehidupan itu sebenar-benarnya terdiri dari dua bagian pula, yakni sesuatu yang tidak mengenakkan yakni musibah, dan sesuatu yang mengenakkan yakni nikmat. Sebenar-sebenarnya diantara keduanya, nikmat itu selalu tak terputus dalam kehidupan, salah satu contoh saja: selama hidup tentu hampir tak terputus kenikmatan yang sangat dekat dengan kelopak mata kita, yakni oksigen yang masuk melalui kedua lubang hidung. Sedangkan musibah datangnya tidak menentu atau terputus-putus. Saya rasa tidak terlalu penting untuk memberikan contoh untuk pernyataan itu. Namun yang terpenting adalah SERING TERJADI SALAH KAPRAH yang diakibatkan manusia tidak menggunakan segenap akal fikirannya atau belajar yang mengakibatkan dua pengertian yang salah yakni: pertama, bahwa cobaan itu hanyalah sesuatu yang tidak mengenakkan atau musibah saja. Jika musibah itu telah lewat dan tidak datang lagi baik dalam bentuk yang sama atau lainnya, maka dianggap tidak ada cobaan dalam hidup, padahal cobaan berupa nikmat itu terus mengalir deras dalam kehidupan.

Baca selengkapnya August 16, 2010 Posted Under Renungan

Sebuah Cerita tentang Pencitraan

Sebuah Cerita tentang Pencitraan

Saat saya masih baru “berpetualang” di dunia broadcasting di sebuah televisi swasta nasional, suatu ketika saya ditempatkan untuk menjalankan progran sketsa komedi. Saat pertama kali shooting program (tidak secara live), sangat tergambar jelas bahwa acara yang sejatinya adalah mengandalkan humor sebagai nilai jual kepada pemirsa di rumah dalam kenyataannya sangat “garing” dan membosankan. Namun tidak tergambar jelas dari mimik sang produser dan production assistant senior saya, sebuah  kegelisahan akan jeleknya tayangan shooting tersebut.

Usut punya usut, sampailah saya dalam tahap editing dalam sebuah kamar editing yang canggih. Dari situlah, dengan cutting bagian-bagian yang tidak penting, sangat “garing” dan dengan menambahkan sound effect suara tertawa, tepuk tangan dan celetukan pada moment yang sangat tepat, maka terciptalah output tayangan sketsa komedi sangat lucu dan enak ditonton. Dan lebih mencengangkan lagi, rating dan share tayangan yang merupakan tolok ukur respon penonton terhadap tayangan tersebut benar-benar tinggi.

Baca selengkapnya August 8, 2010 Posted Under Khasanah, Opini, Pengalaman, Renungan

Jejak Kapitalisme di Indonesia

Jejak Kapitalisme di Indonesia

Kepentingan dasar yang melandasi lahirnya kepentingan-kepentingan lain yang dibawa manusia dalam kehidupan adalah ekonomi. Argumen konkrit yang dapat diuraikan adalah karena kepentingan ekonomi-lah, maka akan lahir kepentingan dalam hukum, politik, dan bahkan terwujudnya suatu peperangan. Kesemua itu akan bersumber pada kepentingan ekonomi.

Dalam tatanan kehidupan dan peradapan manusia, yakni di masa Yunani kuno telah terdapat pemikiran-pemikiran yang walaupun digolongkan kepada ilmu filsafat, sebenarnya mencerminkan sebuah pemikiran ekonomi yang hebat. Plato, Aristoteles, Xenophon adalah para filfasat yang sudah memasuki ranah pemikiran ekonomi yang bisa dinilai menggunakan segala kemampuan akal, pikiran dan “nurani”nya pada saat itu untuk merumuskan suatu filsafat yang menggambarkan secara normatif, bagaimana tatanan perekonomian sebenarnya.

Masa keemasan Islam juga sedikit banyak kurang dibedah tatanan perekonomiannya. Tatanan yang kompleks dalam bermasyarakat yang mengacu pada tatanan syariah mungkin tidak menonjol ke permukaan tatanan perekonomian Islam sebenarnya. Akibatnya adalah ekonomi Islam sedikit tenggelam dalam hamparan tatanan global syariah yang sangat kompleks dan sempurna dalam membangun masyakarat Islam pada saat itu.

Baca selengkapnya June 4, 2010 Posted Under Renungan

Sang Pemeras dalam Jiwa

Sang Pemeras dalam Jiwa

Contoh kasus 1

Saya mempunyai seorang teman baik sejak SMA. Saat SMA mungkin belum terlalu menuntut kedewasaan, sehingga sehingga saat SMA kenangan lebih mengarah pada sebuah canda, tawa dan suka cita saja. Keadaan mulai berubah ketika kita sudah mulai berpencar satu sama lain dan intensitas pertemuan sudah mulai berkurang.  Di saat kita semakin tumbuh dan mulai wajib untuk menjadi seorang yang makin dewasa, saya malah merasakan bahwa arti pertemanan saya seperti sebuah  “wadah tumpahan”  dari dunia yang di buat oleh teman saya tersebut. Ya…dia memanifestasikan saya sebagai orang yang mengerti akan segala khayalan dan fantasinya, sementara teman-teman lain yang tidak mampu mengikuti dan menanggapi fantasinya langsung dicap sebagai bukan teman yang baik.

Baca selengkapnya May 17, 2010 Posted Under Pengalaman, Renungan
Page 1 of 3123