[close]

Archive for the “Opini” Category

Sebuah Cerita tentang Pencitraan

Sebuah Cerita tentang Pencitraan

Saat saya masih baru “berpetualang” di dunia broadcasting di sebuah televisi swasta nasional, suatu ketika saya ditempatkan untuk menjalankan progran sketsa komedi. Saat pertama kali shooting program (tidak secara live), sangat tergambar jelas bahwa acara yang sejatinya adalah mengandalkan humor sebagai nilai jual kepada pemirsa di rumah dalam kenyataannya sangat “garing” dan membosankan. Namun tidak tergambar jelas dari mimik sang produser dan production assistant senior saya, sebuah  kegelisahan akan jeleknya tayangan shooting tersebut.

Usut punya usut, sampailah saya dalam tahap editing dalam sebuah kamar editing yang canggih. Dari situlah, dengan cutting bagian-bagian yang tidak penting, sangat “garing” dan dengan menambahkan sound effect suara tertawa, tepuk tangan dan celetukan pada moment yang sangat tepat, maka terciptalah output tayangan sketsa komedi sangat lucu dan enak ditonton. Dan lebih mencengangkan lagi, rating dan share tayangan yang merupakan tolok ukur respon penonton terhadap tayangan tersebut benar-benar tinggi.

Baca selengkapnya August 8, 2010 Posted Under Khasanah, Opini, Pengalaman, Renungan

Kartu Kredit: Rentenir Legal Vs Maling Hutang

Dulu, saat dunia perbankan di Indonesia belum mengalami deregulasi perbankan. Produk-produk perbankan masih sedikit dan masih bisa dihitung dengan jari. Deferensiasi antar produk perbankan hampir tidak ada. Namun sejak deregulasi perbankan digulirkan, maka bank bisa lebih leluasa untuk menciptakan kreasi terhadap produk-produknya. Lemahnya pengawasan yang dilakukan otoritas moneter membuat produk-produk perbankan dan variasinya menjadi tak terbendung.

Kartu kredit dengan serta merta menjadi produk perbankan yang sangat populer. Bahkan setiap produk antar bank mengklaim memiliki kelebihan plus daripada produk lainnya. Pada secara aspek mendasar dan isinya adalah sama: menawarkan hutang tanpa jaminan dan menyiapkan bunga berbunga yang siap menjerat pemakainya. Jadi kartu kredit adalah sebuah manifestasi dan reinkarnasi dari rentenir yang dilegalkan, dan bahkan lebih kejam dari rentenir biasa. Kenapa lebih kejam? Karena bank melakukan persuasi agar pemakai kartu kredit membayar dengan cicilan minimum saja dan mendorong untuk sering memakainya.

Baca selengkapnya March 15, 2010 Posted Under Opini