Sebuah Cerita tentang Pencitraan
Saat saya masih baru “berpetualang” di dunia broadcasting di sebuah televisi swasta nasional, suatu ketika saya ditempatkan untuk menjalankan progran sketsa komedi. Saat pertama kali shooting program (tidak secara live), sangat tergambar jelas bahwa acara yang sejatinya adalah mengandalkan humor sebagai nilai jual kepada pemirsa di rumah dalam kenyataannya sangat “garing” dan membosankan. Namun tidak tergambar jelas dari mimik sang produser dan production assistant senior saya, sebuah kegelisahan akan jeleknya tayangan shooting tersebut.
Usut punya usut, sampailah saya dalam tahap editing dalam sebuah kamar editing yang canggih. Dari situlah, dengan cutting bagian-bagian yang tidak penting, sangat “garing” dan dengan menambahkan sound effect suara tertawa, tepuk tangan dan celetukan pada moment yang sangat tepat, maka terciptalah output tayangan sketsa komedi sangat lucu dan enak ditonton. Dan lebih mencengangkan lagi, rating dan share tayangan yang merupakan tolok ukur respon penonton terhadap tayangan tersebut benar-benar tinggi.




