<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Inspirasiku</title>
	<atom:link href="http://anung.sunan-ampel.ac.id/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://anung.sunan-ampel.ac.id</link>
	<description>Membuka Tabir Kebenaran yang Telah Dikaburkan</description>
	<lastBuildDate>Sun, 29 Aug 2010 14:11:53 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Bekal Hidup: Sabar dan Syukur</title>
		<link>http://anung.sunan-ampel.ac.id/?p=617</link>
		<comments>http://anung.sunan-ampel.ac.id/?p=617#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Aug 2010 03:22:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anoenk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[cobaan]]></category>
		<category><![CDATA[musibah]]></category>
		<category><![CDATA[nikmat]]></category>
		<category><![CDATA[sabar]]></category>
		<category><![CDATA[syukur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anung.sunan-ampel.ac.id/?p=617</guid>
		<description><![CDATA[ 
Dua kata di atas merupakan kata yang sering diucapkan dan disarankan  jika seseorang mendapatkan nikmat atau musibah. Sesungguhnya dua kata itu adalah pasangan sikap yang digolongkan sebagai salah satu bekal hidup seorang muslim dalam mengarungi kehidupan. Namun sering kali kedua kata itu mengalami banyak pengurangan makna sehingga artinya menyempit. Dengan membawa arti yang telah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p>Dua kata di atas merupakan kata yang sering diucapkan dan disarankan  jika seseorang mendapatkan nikmat atau musibah. Sesungguhnya dua kata itu adalah pasangan sikap yang digolongkan sebagai salah satu bekal hidup seorang muslim dalam mengarungi kehidupan. Namun sering kali kedua kata itu mengalami banyak pengurangan makna sehingga artinya menyempit. Dengan membawa arti yang telah menyempit itu, seseorang menjadi lupa akan fungsinya sebagai bekal hidup, padahal hidup  itulah sebenar-benarnya cobaan. Jika nafas terakhir telah dihembuskan, maka cobaan itu baru telah berakhir.</p>
<p>Jika hidup itu merupakan cobaan, maka cobaan dalam kehidupan itu sebenar-benarnya terdiri dari dua bagian pula, yakni sesuatu yang tidak mengenakkan yakni musibah, dan sesuatu yang mengenakkan yakni nikmat. Sebenar-sebenarnya diantara keduanya, nikmat itu selalu tak terputus dalam kehidupan, salah satu contoh saja: selama hidup tentu hampir tak terputus kenikmatan yang sangat dekat dengan kelopak mata kita, yakni oksigen yang masuk melalui kedua lubang hidung. Sedangkan musibah datangnya tidak menentu atau terputus-putus. Saya rasa tidak terlalu penting untuk memberikan contoh untuk pernyataan itu. Namun yang terpenting adalah SERING TERJADI SALAH KAPRAH yang diakibatkan manusia tidak menggunakan segenap akal fikirannya atau belajar yang mengakibatkan dua pengertian yang salah yakni: pertama, bahwa cobaan itu hanyalah sesuatu yang tidak mengenakkan atau musibah saja. Jika musibah itu telah lewat dan tidak datang lagi baik dalam bentuk yang sama atau lainnya, maka dianggap tidak ada cobaan dalam hidup, padahal cobaan berupa nikmat itu terus mengalir deras dalam kehidupan.<span id="more-617"></span> Coba simak ayat berikut ini:</p>
<p><em>“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.”</em><em> (Al-Anbiya’: 35)</em></p>
<p>Kedua, terjadi salah pengertian bahwa di antara kedua jenis cobaan itu musibah adalah yang terberat. Sesungguhnya tidak, nikmat adalah cobaan yang terberat karena rentan menimbulkan lupa dan menjauhkan diri dari Tuhannya, bahkan jika manusia itu semakin parah merespon nikmat itu dengan gelimang dosa, maka tidak disadari bahwa nikmat itu sebenarnya telah berubah menjadi istidraj. Simaklah arti istidraj seperti ini:</p>
<p><em>dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami <span style="color: #ff0000;">akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan)</span>, dengan cara yang tidak mereka ketahui.</em> <em>(Surah Al-A&#8217;raf:182)</em></p>
<p>Kalimat yang berwarna merah itulah arti istidraj. Jika Allah men-Istidrajkan hambanya membawa arti/makna setiap kali hambaNya (insan) membuat/ menambah/ membaharui kesalahan yang baru maka setiap kali itu juga Allah akan membuat/ menambah/ membaharui nikmatNya ke atas hambaNya itu dan setiap itu juga Allah membuatkan hambaNya itu lupa untuk memohon ampun atas dosa yang dilakukan terhadapnya (dibiarkan bergelimang dosa) dan setiap itu juga Allah akan mengambilnya sedikit demi sedikit(ansur-ansur) dan Allah tidak mengambilnya dengan cara yang mengejutkan!</p>
<p>Dengan jabaran arti seperti itu, seharusnya anda tidak perlu pusing memikirkan kenapa para koruptor masih bisa lepas dari jeratan, Penguasa lalim masih kuat untuk berbuat semena-mena, padahal para perjuangan untuk menghapus itu semua tiada henti. Jadi boleh jadi Allah sedang men-istidrajkan mereka. Allah Tidak Tidur.</p>
<p>Kembali ke topik bahasan, dengan arti cobaan yang tidak salah kaprah yakni cobaan terdiri dari 2 jenis, yakni musibah dan nikmat, dan yang terberat diantaranya adalah nikmat, maka dua respon yang merupakan bekal hidup dari manusia adalah merespon musibah dengan sabar dan merespon nikmat dengan syukur. Pembahasan selanjutnya akan dijelaskan lebih lanjut di bawah ini</p>
<p><strong>Sabar Sebenar-Benarnya</strong></p>
<p>Seringkali jika kita marah atau sedang ditimpa sakit atau musibah lalu teman kita mengingatkan kita agar sabar. Tindakan teman kita itu sangatlah benar, hanya apakah kita sudah benar memaknai arti sabar tersebut? Sedangkan terdapat satu ayat singkat yang bermakna bahwa sabar itu bukan sekedar tindakan yang tergolong “rendahan”</p>
<p><em>Hai orang-orang yang beriman, Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (Al-Baqarah: 153)</em></p>
<p>Mari kita membuat analogi, jika ceritanya adalah seorang manusia yang sedang dalam perjalanan menuju tempat yang di situ dia akan selamat, sedangkan jalan yang menuju tempat itu hanya satu jalan yang lurus. Di sebelah kanan dan kirinya jurang yang tak berdasar lalu selama perjalanan akan selalu ada halangan dan rintangan yang mengakibatkan dia tergelincir dari jalan itu. Maka, usaha manusia agar dia tetap terus maju berjalan menuju tujuan dan tidak tergelincir dari jalan itulah yang dianalogikan sabar tersebut.</p>
<p>Sudah pasti jika menempuh perjalanan yang jauh tentu sangatlah tidak mengenakkan. Rasa capek, bosan, jenuh sudah pasti merupakan rintangan yang asalnya dari dalam diri. Sementara di luar, kondisi halangan dan rintangan yang akan dihadapi sang manusia dalam menempuh perjalanannya sesungguhnya bermacam-macam, kadang kala berupa badai yang rawan membuat tergelincir, kadang berupa jebakan lubang atau oli licin di tengah jalan, kadang berupa persimpangan jalan yang menawarkan kenyamanan atau jalan pintas yang sebenarnya penuh jebakan. Keseluruhan usaha manusia untuk mengatasi halangan dan rintangan tersebut adalah kesabaran. Halangan dan rintangan yang merupakan musibah itu mampu membuat manusia jatuh, berhenti berjalan, oleng ke kiri atau ke kanan, atau berlari cepat ke depan tanpa hati-hati. Jika dia masih terjatuh di tempat atau berada dalam ruang jalan, hal itu masih bisa terselamatkan. Namun jika dia sampai oleng atau terjatuh tidak berada dalam jalan tersebut, maka kemungkinan dia akan bisa kembali dengan susah payah atau mungkin tidak kembali ke jalan itu sekali lagi.</p>
<p>Pengartian dari analogi tersebut adalah, Rasa letih dan bosan dalam perjalanan adalah manifestasi dari nafsunya, Jalan lurus itu merupakan agama, panjang jalan adalah usia, perjalanan adalah ibadah, akhir tujuan adalah Ridho Allah, halangan dan rintangan yang dihadapi selama perjalanan adalah musibah, jurang di kiri dan kanan adalah berputus asa dari nikmat Allah dan keluar dari tali agama (murtad). Dan seperti yang disebutkan bahwa sabar merupakan usaha manusia agar dia tetap terus beribadah dengan ajaran agama selama masa hidupnya untuk meraih ridho Allah itulah sebenar-benarnya sabar yang komprehensif. Jadi kesabaran yang diartikan sebagai “menahan diri” itu sebenarnya adalah menahan diri secara komprehensif yang meliputi usaha agar diri tetap kuat menahan diri dari godaan dalam dirinya sendiri yang berupa nafsu yang mengajaknya menjauh dari panduan, tetap kuat/tidak terjatuh saat diterpa musibah, dan dia tetap menjalankan ibadah untuk meraih ridho Allah.</p>
<p><strong>Syukur Sebenar-benarnya.</strong></p>
<p>Ayat yang paling sering dikutip dalam menjelaskan kewajiban bersyukur adalah QS Ibrahim: 7:</p>
<p><em>dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; &#8220;Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih&#8221;.</em></p>
<p>Sangat sering sekali kita melihat seseorang melakukan ungkapan rasa syukur dengan kalimat “Alhamdulillah”. Hal ini sangat tepat sekali. Namun sebenar-benarnya ungkapan kalimat itu diucapkan dengan sinkronisasi antara ucapan, hati dan pikiran, maka ungkapan kalimat itu akan menimbulkan kekuatan yang dahsyat dalam perbuatan-perbuatanya yang merupakan manifestasi rasa syukur itu.</p>
<p>Sekarangkan bayangkan, jika anda menjadi suatu hari menjadi orang yang benar-benar tidak berdaya dan membutuhkan pertolongan. Kemudian anda benar-benar hampir berputus asa, lalu datanglah seseorang memberi pertolongan yang anda benar-benar harapkan dengan tanpa pamrih. Kemudian, anda terbebas dari masa sulit. Apa yang anda akan lakukan terhadap sang penolong anda? Sudah pasti itu adalah rasa terima kasih. Rasa terima kasih itu tentu saja pertama kali diungkaplan lewat ucapan. Kemudian jika sang penolong dengan rasa kemanusiaan yang tinggi terus menolong kita sampai kita menjadi orang dengan keadaan yang mapan, sudah barang tentu saja rasa terima kasih itu akan semakin menjadi-jadi dalam diri kita. Tentu saja kita teramat sungkan jika hanya memberikan ucapan terima kasih, sedangkan membalas pertolongannya yang banyak kita tak akan mampu. Akhirnya tentu saja kita berusaha agar tetap terjalin hubungan silahturahmi yang baik dengan sang penolong, kita berusaha membalas budi dengan cara lain yang spontan, apapun itu karena rasa terima kasih yang tiada terkira itu.</p>
<p>Jika analogi di atas dimodifikasi sedikit, bahwa Sang Penolong itu adalah Allah, Dzat Yang Maha Kaya, Yang Memberikan kita nikmat terus-menerus yang jelas-jelas kita tidak akan mampu membalasNya. Lalu Analogi di atas pun berlaku. Setelah berucap terima kasih, apakah kita sama sekali tidak sungkan untuk melakukan wujud terima kasih yang nyata? Tentu saja wujud terima kasih itu adalah ibadah atau amalan yang baik. Jadi Kita melakukan ibadah atau amalan seyogyanya adalah karena rasa syukur kita atas nikmat yang besar dan tak terkira, bahkan TIDAK MUNGKIN terbalas tersebut. Jadi rasa syukur seharusnyalah dijadikan landasan mengapa kita beribadah dengan gigih, yakni menambah ibadah/amalan sunnah, bukannya menggunakan paradigma lama saat kita masih duduk di sekolah dasar, bahwa kita menambah ibadah karena iming-iming pahala.</p>
<p>Namun, walaupun saya telah menganalogikan gambaran rasa syukur tersebut, memang tidak dipungkiri kesemua itu sangatlah sulit. Memang rasa nyaman dan kemapanan benar-benar membuat kita lupa dan malah memuas-muaskan nafsu kita. Seperti yang sempat saya sebutkan di atas, jika respon kita terhadap nikmat ini adalah malah berbuat dosa yang semakin menjadi-jadi, maka waspadalah, bahwa sesungguhnya kemungkinan nikmat itu telah berubah menjadi suatu istidraj. Jika Istidraj itu turun, maka berhati-hatilah bahwa manusia akan semakin terperosok dan sudah dipastikan siksa yang keras kelak akan menantinya. Maka pelajarilah, kenapa sekarang seperti tampak banyak pelakukan kejahatan, kelaliman,kesemena-menaan seakan makin menjadi-jadi dan sepertinya semakin mengalami nikmat yang tiada tara. Bisa jadi mereka sedang di-istidrajkan. Jika itu benar sesungguh beruntunglah anda-anda kaum yang tertindas, masih dikasihani dengan ujian berupa musibah dan bukan dengan ujian nikmat yang sejatinya lebih berat itu</p>
<img src="http://anung.sunan-ampel.ac.id/?ak_action=api_record_view&id=617&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anung.sunan-ampel.ac.id/?feed=rss2&amp;p=617</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebuah Cerita tentang Pencitraan</title>
		<link>http://anung.sunan-ampel.ac.id/?p=599</link>
		<comments>http://anung.sunan-ampel.ac.id/?p=599#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Aug 2010 15:44:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anoenk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khasanah]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Iklan]]></category>
		<category><![CDATA[Kepalsuan]]></category>
		<category><![CDATA[Pencitraan]]></category>
		<category><![CDATA[Terselubung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anung.sunan-ampel.ac.id/?p=599</guid>
		<description><![CDATA[Saat saya masih baru &#8220;berpetualang&#8221; di dunia broadcasting di sebuah televisi swasta nasional, suatu ketika saya ditempatkan untuk menjalankan progran sketsa komedi. Saat pertama kali shooting program (tidak secara live), sangat tergambar jelas bahwa acara yang sejatinya adalah mengandalkan humor sebagai nilai jual kepada pemirsa di rumah dalam kenyataannya sangat &#8220;garing&#8221; dan membosankan. Namun tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saat saya masih baru &#8220;berpetualang&#8221; di dunia broadcasting di sebuah televisi swasta nasional, suatu ketika saya ditempatkan untuk menjalankan progran sketsa komedi. Saat pertama kali <em>shooting</em> program (tidak secara live), sangat tergambar jelas bahwa acara yang sejatinya adalah mengandalkan humor sebagai nilai jual kepada pemirsa di rumah dalam kenyataannya sangat &#8220;garing&#8221; dan membosankan. Namun tidak tergambar jelas dari mimik sang produser dan production assistant senior saya, sebuah  kegelisahan akan jeleknya tayangan <em>shooting</em> tersebut.</p>
<p>Usut punya usut, sampailah saya dalam tahap editing dalam sebuah kamar editing yang canggih. Dari situlah, dengan <em>cutting</em> bagian-bagian yang tidak penting, sangat &#8220;garing&#8221; dan dengan menambahkan <em>sound effect</em> suara tertawa, tepuk tangan dan celetukan pada moment yang sangat tepat, maka terciptalah output tayangan sketsa komedi sangat lucu dan enak ditonton. Dan lebih mencengangkan lagi, rating dan share tayangan yang merupakan tolok ukur respon penonton terhadap tayangan tersebut benar-benar tinggi.<span id="more-599"></span></p>
<p style="text-align: center;">&#8212;&#8211;0000&#8212;-</p>
<p>Mungkin anda masih bertanya-tanya, kenapa <em>jlutrungan</em> prolog dengan judul sekilas tidak ada hubungan. Namun dari situlah sebenarnya saya menggambarkan dahsyatnya sebuah pencitraan. Ya, pencitraan sekarang menjadi <em>trend</em> yang sangat berkembang pesat di masa sekarang ini di mana sebuah kepentingan menjadi mudah untuk dideteksi jika tidak ditutup dengan sebuah tabir yang rapi karena batasan pandangan publik sudah benar-benar dibuka lebar oleh berbagai media yang benar-benar “ganas” dalam pemberitaannya.</p>
<p>Dalam kaidah yang sangat harfiah, pencitraan diidentikan dengan iklan. Awalnya, pengguna iklan adalah sebuah lembaga yang memproduksi suatu barang dan jasa yang menjadikan iklan itu menjadi salah satu alat pemasaran (seringkali pada taraf perusahaan yang mempunyai deferensiasi produk banyak, iklan/pencitraan terhadap perusahaan juga dilakukan). Dengan paradigma tersebut, membuat suatu iklan sama dengan membuat suatu citra yang baik,  padahal titik awal dari kedua hal tersebut adalah berbeda. Iklan secara normatif adalah sebuah pengenalan diri dari ada menjadi ada, atau dari suatu yang semula begini menjadi sesuatu yang begitu. Iklan juga berarti mengenalkan suatu manfaat/kegunaan yang ditawarkan yang perlu diketahui agar pemirsa iklan bisa mengetahui manfaat itu. Selanjutnya ketika respon pemirsa iklan mencoba barang dan jasa itu, maka kepuasan yang dicapai konsumen itu akan melahirkan suatu publisitas yang akan menyebarkan citra yang baik akan kebenaran iklan tersebut. Harapan lebih lanjut adalah akhir dari proses tersebut akan menimbulkan pencitraan yang baik pada sang produsen atau disebut juga Godwill perusahaan</p>
<p>Jadi secara normatif, alur hubungan sebuah iklan dan pencitraan adalah sebagai berikut:</p>
<p><a href="http://anung.sunan-ampel.ac.id/wp-content/uploads/2010/08/Untitled.png"><img class="aligncenter size-full wp-image-610" title="Untitled" src="http://anung.sunan-ampel.ac.id/wp-content/uploads/2010/08/Untitled.png" alt="" width="676" height="225" /></a></p>
<p>Pencitraan normatif ini sebenarnya sudah dicontohkan dalam tingkah lalu seorang pemuda yang hidup abad ke-6 Masehi bernama Muhammad saat Ia berdagang bersama pamannya di negeri Syam. Dengan mempraktekkan kejujuran dalam melakukan transaksi, mendeskripsikan barang dagangan dengan sebenar-benarnya dan memperhatikan kebutuhan timbal balik, dimana pertemuan kebutuhan pihak yakni pembeli yang mencari manfaat yang benar-benar terukur sesuai yang ia cari dan mampu ia beli dengan kebutuhan penjual yang menginginkan margin keuntungan dari hasil perdagangannya. Pertemuan kebutuhan tersebut menimbulkan sinergi perasaan  kedua pihak sama-sama untung. Dengan mekanisme tersebut timbulah sebuah pencitraan yang baik atas diri sang pemuda dengan disematkannya gelar Al-Amin.</p>
<p>Namun seiring dengan bergulirnya jaman dan gesekan kepentingan, pencitraan yang secara normatif adalah merupakan hasil yang nyata dari sebuah proses yang berurutan ternyata sekarang berubah arti menjadi sebuah usaha dengan berbagai cara untuk merebut opini yang baik dari masyarakat. Dalam kalimat yang lebih lugas pencitraan ini bisa berarti adalah usaha membuat agar publik beropini sesuai yang diharapkan walaupun pada kenyataannya tidak demikian. Dampak yang ditimbulkan sudah cukup jelas, yakni pencitraan menjadi “bungkus” yang mempercantik “isi” yang belum tentu bagus. Dengan bergesernya makna dari sebuah pencitraan inilah yang membuat pencitraan menjadi kebohongan yang terselubung dan menjerumuskan. Walaupun modal yang dikeluarkan untuk pencitraan ini sangatlah besar, namun para pelaku pencitraan (ke depan, pencitraan yang dibahas merupakan pencitraan yang sudah diubah maknanya) sudah membuat suatu kalkulasi yang tajam bahwa hasil yang dinikmati akan sangat besar sebagaimana kepentingan besar dibalik pencitraan tersebut.</p>
<p><strong>Pencitraan Diri</strong></p>
<p>Seiring bergulirnya jaman dan gesekan kepentingan pula, pengguna pencitraan juga mulai bergeser. Pada jaman orde baru, dalam ranah politik belum begitu mengenal apa yang disebut pencitraan diri. Hal itu disebabkan akses media dan pengetahuan publik terhadap ranah politik benar-benar telah “dikebiri”. Namun setelah era reformasi (saya lebih melihatnya sebagai era liberalisasi), dimana orang-orang yang akan duduk dalam jajaran eksekutif maupun legeslatif harus berebut suara rakyat, maka pencitraan diri menjadi hal yang sangat penting untuk dilakukan. Pencitraan yang sebelumnya hanya laku untuk dunia pemasaran produk, sekarang merebak ke dalam pencitraan personal yang lebih banyak untuk memenuhi kepentigan pragmatis. Sejak itu, bisnis pencitraan mengalami <em>booming</em> yang sangat fantastis.</p>
<p>Ilustrasi yang saya gambarkan dalam prolog tulisan itulah gambaran kekuatan pencitraan yang sangat dahsyat. Pencitraan yang sangat “baik” mampu merubah dan mengendalikan opini publik yang melihatnya. Sama juga seperti ilustrasi editing program tayangan saya ulas dalam prolog, pencitraan yang “baik” adalah membuang bagian-bagian buruk/tidak penting untuk dilihat, mengumpulan bagian-bagian yang baik yang layak untuk ditampilkan, lalu memberi “efek” kreatif yang bisa memperindah dan merubah tampilan diri menjadi sangat jauh berubah. Dan&#8230;”rating” yang ditunggu seyogyanya adalah hasil perolehan suara yang kelak mampu mengembalikan modal pencitraan yang mahal itu.</p>
<p><strong>Pencitraan negatif <em>(Black Champaign)</em></strong></p>
<p>Belum puas dengan itu semua, tumbuh lagi satu cabang ketidakberesan hasil pengaburan pencitraan normatif. Ketidakberesan itu adalah black champaign. Jika dirasa citra dari lawan yang dianggap bisa menghalangi untuk meloloskan kepentingannya, maka <em>black champaign </em>adalah solusi yang pakai untuk digunakan. <em>Black champaign</em> merupakan usaha untuk memperburuk citra obyek yang dituju.</p>
<p>Tentu saja dalam melakukan <em>black champaign</em> ini harus benar-benar kreatif dan berhati-hati. Kekeliruan dan ketidakhatian dalam melakukannya justru akan menjadi boomerang bagi sang penebar <em>black champaign</em>. Jika <em>black champaign</em> berhasil dilakukan, maka opini publik akan objek yang dituju akan menjadi jelek. Oleh karena itu, upaya ini dalam bahasa “intelektual” bisa disebut sebagai pembunuhan karakter. Karena sang obyek akan mengalami dampak yang sangat buruk dan akan mengalami kesulitan untuk melepaskan diri dari “citra buruk” yang disematkan pada dirinya oleh sang pelaku <em>black champaign</em>.</p>
<p><strong>Berpikir lebih Global</strong></p>
<p>Sedikit menyeruak dan melongok melebihi batas, pencitraan juga merupakan wahana yang sangat populer untuk digunakan. Jika subyek dan obyek sudah meluas seperti sebuah kumpulan kepentingan besar seperti sebuah negara, penguasaan sumber daya atau bahkan ideologi, maka pencitraan yang bermain adalah sebuah pencitraan tingkat tinggi yang dimainkan sebuah kepentingan yang sangat besar.</p>
<p>Namun, tujuan dari penggunaan pencitraan ini sudah bukan lagi hanya semata-mata untuk menarik simpati atau mencari dukungan dari sasaran pencitraan, namun lebih daripada itu skenario yang besar dan terencana ada dibalik pencitraan ini. Tergantung dari tujuan apa yang diskenariokan, apakah ingin menyematkan citra buruk, ingin memecah belah persatuan, ataukan merubah pola pikir. Kesemua tujuan antara tersebut adalah sama, yakni memperlemah golongan yang dicitrakan buruk dan memperkuat kedudukan yang dicitrakan baik. Dan hasil akhir yang dituju semuanya bermuara pada tercapainya kepentingan pembuat pencitraan.</p>
<p>Dan sesungguhnya alat pencitraan ini jauh lebih efektif dan efisien digunakan daripada menggunakan kekuatan fisik atau senjata. Sedikit melongok ke belakang, yakni sejarah di jaman imperalisme, betapa kemampuan sebuah pencitraan mampu mengadu domba kekuatan besar bumi nusantara. Lalu cobalah sedikit mempelajari sejarah sampai timbul sebutan <a href="http://cintailmoe.wordpress.com/2008/04/07/sejarah-islam-di-filipina/" target="_blank">Kaum Moro</a> di Philipina yang artinya orang yang buta huruf, jahat, tidak bertuhan dan huramentados (tukang bunuh). Sedikit maju beberapa saat ini tentu kita semakin bingung dengan yang namanya teroris, HAM, dan “sebangsanya”. Mana yang sebenar-benar teroris, mana yang pembela HAM atau penginjak-injak HAM, mana yang menjunjung demokrasi atau mana yang mencederai demorasi. Kesemuanya itu telah dilambari dengan bungkus pencitraan yang dikemas dengan rapi.</p>
<p><strong>Kembali Duduk dan Sedikit Merenung</strong></p>
<p>Apa yang ditekankan dalam tulisan ini adalah bahwa sekarang ini kita hidup dalam sebuah lintasan pencitraan. Perubahan pola pikir dan berujung pada tingkah laku adalah hasil respon dari semua input yang diterima. Oleh karena itu apa yang kita lihat, kita dengar dan kita rasakan haruslah benar-benar di<em>filter</em> agar kebenaranlah yang benar-benar diterima. Jika sekarang kita belum beranjak kritis dan sudah terombang-ambing oleh banyaknya pencitraan yang berhembus di sekitar kita, makah mulailah dari sekarang carilah pegangan yang hakiki dan melatih diri untuk siap merespon sebuah pencitraan. Dan jika anda sudah memahami bagaimana cara menerima sebuah pencitraan, maka anda juga perlu menahan diri untuk tidak mengatakan suatu keburukan seseorang karena tanpa disadari anda sudah menyematkan citra yang buruk pada seseorang yang belum tentu benar. Biarlah sekarang kita kembali lagi ke Khitah, bahwa citra baik atau buruk itu muncul dan terlihat sendiri dari ahklak/tingkah laku.</p>
<img src="http://anung.sunan-ampel.ac.id/?ak_action=api_record_view&id=599&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anung.sunan-ampel.ac.id/?feed=rss2&amp;p=599</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jejak Kapitalisme di Indonesia</title>
		<link>http://anung.sunan-ampel.ac.id/?p=519</link>
		<comments>http://anung.sunan-ampel.ac.id/?p=519#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Jun 2010 17:03:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anoenk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi islam]]></category>
		<category><![CDATA[kapitalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Liberalisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anung.sunan-ampel.ac.id/?p=519</guid>
		<description><![CDATA[Kepentingan dasar yang melandasi lahirnya kepentingan-kepentingan lain yang dibawa manusia dalam kehidupan adalah ekonomi. Argumen konkrit yang dapat diuraikan adalah karena kepentingan ekonomi-lah, maka akan lahir kepentingan dalam hukum, politik, dan bahkan terwujudnya suatu peperangan. Kesemua itu akan bersumber pada kepentingan ekonomi.
Dalam tatanan kehidupan dan peradapan manusia, yakni di masa Yunani kuno telah terdapat pemikiran-pemikiran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kepentingan dasar yang melandasi lahirnya kepentingan-kepentingan lain yang dibawa manusia dalam kehidupan adalah ekonomi. Argumen konkrit yang dapat diuraikan adalah karena kepentingan ekonomi-lah, maka akan lahir kepentingan dalam hukum, politik, dan bahkan terwujudnya suatu peperangan. Kesemua itu akan bersumber pada kepentingan ekonomi.</p>
<p>Dalam tatanan kehidupan dan peradapan manusia, yakni di masa Yunani kuno telah terdapat pemikiran-pemikiran yang walaupun digolongkan kepada ilmu filsafat, sebenarnya mencerminkan sebuah pemikiran ekonomi yang hebat. Plato, Aristoteles, Xenophon adalah para filfasat yang sudah memasuki ranah pemikiran ekonomi yang bisa dinilai menggunakan segala kemampuan akal, pikiran dan “nurani”nya pada saat itu untuk merumuskan suatu filsafat yang menggambarkan secara normatif, bagaimana tatanan perekonomian sebenarnya.</p>
<p>Masa keemasan Islam juga sedikit banyak kurang dibedah tatanan perekonomiannya. Tatanan yang kompleks dalam bermasyarakat yang mengacu pada tatanan syariah mungkin tidak menonjol ke permukaan tatanan perekonomian Islam sebenarnya. Akibatnya adalah ekonomi Islam sedikit tenggelam dalam hamparan tatanan global syariah yang sangat kompleks dan sempurna dalam membangun masyakarat Islam pada saat itu.<span id="more-519"></span></p>
<p>Anehnya jauh ke depan, tepatnya abad ke ke 18, yakni setelah munculnya Adam Smith dalam percaturan ekonomi, ilmu ekonomi sebagai cabang ilmu tersendiri baru mendapatkan pengakuan. Sebagaimana dikenal, mazhab yang diperkenalkan Adam smith adalah sebuah mazhab kebebasan yang seluas-luasnya dalam menjalankan ekonomi tanpa campur tangan siapapun. Mengenai argumen bahwa kebebasan  itu akan menimbulkan keserakahan, Adam Smith memberikah tanggapan yang sangat “logis”, bahwa keserakahan manusia yang dibiarkan tidak akan mendatangkan kerugian dan merusak masyarakat selama ada persaingan bebas.  Argumen itu disebabkan  karena dengan adanya persaingan bebas, maka seseorang yang menginginkan keuntungan jangka panjang tidak akan semena-mena menaikkan harga di atas tingkat harga pasar. Karena jika itu dilakukan, maka para pembelinya akan meninggalkannya dan dia akan terpuruk. Argumen inilah yang jika dikembangkan dan digambarkan dalam sebuah mekanisme grafis yang “sedikit rumit” memunculkan konsep koreksi harga agregat menuju sebuah keseimbangan pasar. Jadi intinya, ajaran Smith mengajarkan bahwa sebuah kebebasan yang seluas-luasnya justru akan meningkat pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.</p>
<p>Beberapa pengembangan teori dari mazhab klasik Adam Smith yang patut dicermati adalah pengembangan teori akumulasi kapital, teori nilai kerja dan upah alami, teori keuntungan komparatif dan perdagangan bebas (David Ricardo). Berbicara mengenai teori akumulasi kapital, maka teori inilah yang merupakan cikal bakal kapitalisme. Investasi yang dilakukan dari keuntungan tahun sebelumnya akan meningkatkan produktivitas dan menimbulkan akumulasi keuntungan yang berlipat di masa yang akan datang. Penekanan investasi di sini lebih mengarah pada investasi barang modal (Mesin atau barang modal lainnya yang bukan SDM). Dengan demikian, tujuan akan tercapainya efesiensi dan produktivitas yang semakin meningkat akan tercapai. Pelaksanaan dari teori akumulasi kapital ini menurut pandangan yang kontradiktif adalah bahwa akumulasi kapital ini akan meningkatkan secara pesat pertumbuhan ekonomi, namun dampaknya juga akan mengakibatkan semakin buruknya ketimpangan yang ditimbulkannya. Pemilik modal akan semakin kaya, sedangkan kaum buruh akan semakin miskin.</p>
<p>Sementara Teori nilai kerja dan upah alami yang dibidani oleh David Ricardo menyatakan  bahwa nilai tukar suatu barang ditentukan oleh ongkos  yang perlu dikeluarkan untuk menghasilkan barang tersebut, yaitu biaya untuk bahan mentah dan upah buruh yang besarnya hanya cukup untuk bertahan hidup <em>(subsisten)</em> bagi buruh yang bersangkutan yang disebut upah alami <em>(natural wage)</em>. Jika harga yang ditetapkan lebih besar dari biaya-biaya tersebut, maka perusahaan akan menikmati keuntungan dan akan menarik pelaku pasar/produsen yang baru. Oleh pihak-pihak yang kontra menuding pemberlakukan teori ini akan menimbulkan upah besi terhadap buruh atau karyawan, karena para pemodal akan berusaha untuk menekan biaya-biaya tersebut, dalam hal ini tentu saja upah terhadap buruh atau karyawannya demi untuk mendapatkan margin keuntungan. Dalam kajian manajemen sumber daya manusia juga dikaji, pemberlakuan teori ini dipandang bahwa sumber daya manusia akan dianggap sebagai cost, bukannya sebuah aset. Padahal dari ilmu manajemen sumber daya manusia modern menyarankan bahwa sumber daya manusia harus diperlakukan sebagai aset yang harus dipelihara (motivasi, skill, dan kesejahteraannya) dan akan memberikan keuntungan jangka panjang kepada perusahaan.</p>
<p>Satu lagi teori yang lahir dari David Ricardo adalah teori keuntungan komparatif yang intinya agar negara-negara mengidentifikasi apa keunggulannya, lalu melakukan spesialisasi produksinya. Semua kelebihan produksi tidak perlu ditakutkan over produksi, karena bisa di ekspor ke negara lain yang susah atau tidak efisien memproduksinya. Perkembangan selanjutnya mudah ditebak, yakni menganjurkan semangat liberalisme ke dunia global dan mencela adanya perlindungan pasar dalam negeri suatu. Banyak yang melakukan argumen bahwa jika suatu negara yang tidak mempunyai keunggulan komparatif apapun, maka negara itu akan tergilas dan mengalami chaos perekonomian dalam negerinya karena kalah bersaing dari produk luar negeri. Para pihak yang kontra menyatakan bahwa perdagangan bebas <em>(free trade)</em> sangatlah tidak manusiawi dan akan lebih baik menggantinya dengan perdagangan yang adil <em>(fair trade)</em></p>
<p><strong>Melongok Realitas yang Ada</strong></p>
<p>Tidak bisa dipungkiri, bahwa Kapitalisme/liberalisme  pasti sangat dikehendaki oleh para pemilik modal (si kaya) atau bisa dibaca secara global &#8220;si kaya&#8221; itu dapat diartikan sebuah negara kaya. Dengan keadaan yang sangat menguntungkan itu, tentu upaya status quo akan selalu dipertahankan. Kerusakan demi kerusakan tatanan perekonomian serta krisis demi krisis yang dituding banyak pihak ditimbulkan oleh kapitalis/liberalis tidak serta merta membuatnya jera. Bahkan kapitalis/liberalis selalu datang dengan wajah/topeng yang baru.</p>
<p>Walaupun John Maynard keynes telah memberikan sumbangsih yang agak menetralisir membabi butanya liberalisme pasar bebas dan menarik peran pemerintah untuk melakukan intervensi dalam perekonomian, namun upaya status quo yang diupayakan para kapitalis yang tentu saja lebih besar kekuatannya karena didukung dengan sumber daya yang dimilikinya. Berbagai upaya penguasaan institusi perekonomian telah dilakukan untuk memuluskan penancapan bendera kapitalisme di dunia. Tak Pelak, langkah awal yang dilakukan adalah menguasai pemerintahan, kemudian melangkah kepada penguasaan organisasi dunia di bidang ekonomi dan moneter semacam IMF, World Bank, atau Organisasi Perdagangan.</p>
<p><strong>(Gejala) Kapitalisme/Liberalisme di Indonesia</strong></p>
<p>Jika kita menengok ke belakang, kita perlu menganalisis mulai jaman orde baru. Sebenarnya, perekonomian yang saat itu berslogan “ekonomi Pancasila” yang berketuhanan dan berkeadilan sosial hanya menjadi sekedar slogan. Dalam kenyataannya, penguasa sudah menabur benih-benih kapitalisme/liberalisme. Namun, kondisi perekonomian Indonesia saat itu belumlah terlalu terbuka dari serangan liberalisme dari luar. Para kapitalis di Indonesia memainkan perannya secara halus. Kenapa dikatakan secara “halus”? Ini dikarenakan walaupun sebagian besar modal dikuasai mereka yang biasa disebut kroni-kroni penguasa orde baru, namun gejolak inflasi dan murahnya pelbagai bahan kebutuhan masyarakat yang sangat rendah menjadikan gerak para kapitalisme itu itu tidak terasa (bahkan saat ini rakyat kecil banyak yang merindukan masa-masa itu).</p>
<p>Sebuah pendapat pribadi dari saya: Mungkin, karena potensi dan kekayaan Indonesia yang berlimpah ruah, menjadikan para kapitalis dari luar “iri” dan tidak rela jika kekayaan Indonesia dikuasai para kapitalis lokal Indonesia. Moment serangan kapitalisme dari luar itu terjadi ketika krisis keuangan moneter 1998 di Asia dan Indonesia. Dan, institusi resmi yang menjembatani masuknya kapitalisme di Indonesia itu adalah IMF. Sudah kasat mata, uluran tangan berupa softloan dibarengi dengan penularan virus kapitalisme yang dipaket dengan rapi dan indah dalam sebuah resep obat yang bertajuk paket kebijakan reformasi ekonomi yang merupakan syarat yang harus dilakukan adalah sebuah jembatan kapitalis/liberalis untuk masuk di Indonesia. Sudah kasat mata pula isi-isi dari paket kebijakan reformasi ekonomi itu “memaksa” Indonesia untuk membuka pasar sebebas-bebasnya. Penyerahan mekanisme pasar, penghapusan restriksi perdagangan, pemberlakukan sistem <em>floating exchange rate</em> adalah bukti “konkrit” serangan kapitalisme/liberalisme tersebut.</p>
<p>Lalu tidaklah susah ditebak, virus kapitalisme telah merebak dalam tatanan negara. Negara menjadi “korporasi” dimana negara menjadi kepentingan bisnis dan keputusan politiknya mengabdi pada pemilik modal. Beberapa bukti konkrit kebijakan kapitalisme tersebut antara lain:</p>
<ul>
<li>Penghapusan berbagai subsidi pemerintah pada komoditas strategis (bbm, listrik dsb) secara bertahap dan diserahkannya ke mekanisme pasar membuat harga-harga meningkat</li>
<li>Nilai kurs diambangkan secara bebas (floating rate) sesuai dengan LOI dengan IMF (dikembalikan pada mekanisme pasar)</li>
<li>Privatisasi BUMN yang membuat sektor kepemilikan umum (migas, tambang, kehutanan) dikuasai oleh swasta</li>
<li>Bobroknya lembaga keuangan dan masuknya Indonesia ke dalam jerat utang (Liberalisasi pasar berbasis bunga dan privatisasi bank- bank pemerintah)</li>
<li>BHMN dalam dunia pendidikan tinggi membuat biaya kuliah meningkat tajam</li>
<li>Privatisasi rumah sakit daerah membuat biaya pengobatan naik.</li>
<li>Liberalisasi pers membuat dunia pers mengabdi pada kepentingan bisnis semata sehinggat tidak mengindahkan misi pendidikan dan aspek moralitas</li>
<li>Makin banyaknya turn over karyawan di banyak perusahaan dan Indikasi makin meningkatkan popularitas bekerja sebagai PNS karena merasa jaminan dan perlakuan perusahaan swasta yang semakin semena-mena.</li>
</ul>
<p>Kesemuanya itu mengakibatkan kesenjangan yang semakin parah. Sebagai indikator kecil saja, Jumlah penduduk miskin di Indonesia 36,17 juta jiwa(BPS 2003) Meningkat 40 juta jiwa (BPS 2005). Namun anehnya, dalam rilis orang-orang terkaya di dunia, jumlah orang terkaya dunia asal Indonesia juga meningkat <a href="http://www.mamasipenk.co.cc/2010/03/7-orang-indonesia-dalam-daftar-1000.html  ." target="_blank">(lihat di sini)</a></p>
<p>Kesenjangan inilah yang mengakibatkan orientasi materialistis pada berbagai lapisan masyarakat, dalam setiap profesi dan dalam berbagai keadaan. Bagi golongan non pengusaha,  korelasi  dari orientasi materialistis inilah yang mengakibatkan sifat korupsi juga susah untuk diberantas, bahkan cenderung semakin tersistematis. Begitu pula golongan masyarakat kecil, cerita tentang pengurangan kadar timbangan atau pengoplosan dengan bahan lain (kadang sangat berbahaya) pun dilakukan.</p>
<p>Yaa&#8230;Jika:  &#8220;Terbitnya Matahari dari Barat&#8221; diartikan bahwa ilmu dan pemahaman  Barat berupa Kapitalisme yang melahirkan pola kehidupan materialistik,  kesenjangan dan dehumanisasi telah menjadi acuan; maka &#8220;kiamat&#8221; dalam  tatanan hidup manusia sudah dekat. Dan tak ada cara yang lain kecuali mengadopsi sistem yang telah dibuatkan Sang Kholik yang tahu persis apa yang terbaik untuk makhluknya.</p>
<img src="http://anung.sunan-ampel.ac.id/?ak_action=api_record_view&id=519&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anung.sunan-ampel.ac.id/?feed=rss2&amp;p=519</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ad Hoc Connection (Wireless Connection) antar Laptop dengan Windows 7</title>
		<link>http://anung.sunan-ampel.ac.id/?p=476</link>
		<comments>http://anung.sunan-ampel.ac.id/?p=476#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 May 2010 06:22:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anoenk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Melek IT]]></category>
		<category><![CDATA[Windows 7]]></category>
		<category><![CDATA[Wireless Conection]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anung.sunan-ampel.ac.id/?p=476</guid>
		<description><![CDATA[Keunggulan perangkat wifi pada laptop sangatlah menguntungkan. Tentu saja di antaranya adalah untuk melakukan network and sharing dengan mudah tanpa menggunakan kabel. Kelanjutannya adalah kita bisa melakukan sharing file, koneksi internet atau game online. Khusus jika operating system yang digunakan adalah Windows 7, setting yang dilakukan akan lebih mudah dengan wizard yang disediakannya. Disamping itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Keunggulan perangkat wifi pada laptop sangatlah menguntungkan. Tentu saja di antaranya adalah untuk melakukan network and sharing dengan mudah tanpa menggunakan kabel. Kelanjutannya adalah kita bisa melakukan sharing file, koneksi internet atau game online. Khusus jika operating system yang digunakan adalah Windows 7, setting yang dilakukan akan lebih mudah dengan wizard yang disediakannya. Disamping itu faktor keamanan agar network dan sharing itu tidak mudah ditembus juga diperbaiki tanpa mempersulit langkah-langkah setting yang dilakukan</p>
<p>Langkah-Langkahnya sangat mudah, sebagai berikut:<span id="more-476"></span></p>
<p>Jika di salah satu laptop <strong>mempunyai modem atau koneksi internet (non wifi)</strong>, maka masing-masing komputer <strong>TIDAK PERLU</strong> di setting IP address, namun jika <strong>tidak ada koneksi internet sama sekali dan hanya network sharing</strong>, maka sebelumnya masing-masing laptop <strong>PERLU DI SETTING DENGAN IP ADDRESS KELAS YANG SAMA</strong><br />
Langkahnya sebagai berikut:<br />
Klik  jalur ini: Start Menu -&gt;Control Panel-&gt;Control Panel\Network and Internet\Network and Sharing Center-&gt;klik Change Adapter Setting</p>
<p>Kemudian klik kanan lalu pilih properties pada wireless network connection device anda</p>
<p><a href="http://anung.sunan-ampel.ac.id/wp-content/uploads/2010/05/adhoc-1.png"><img class="aligncenter size-medium wp-image-493" title="adhoc 1" src="http://anung.sunan-ampel.ac.id/wp-content/uploads/2010/05/adhoc-1-300x168.png" alt="" width="300" height="168" /></a></p>
<p>Pilih saja Internet Protocol Version 4 lalu klik properties lagi</p>
<p><a href="http://anung.sunan-ampel.ac.id/wp-content/uploads/2010/05/adhoc-2.png"><img class="aligncenter size-medium wp-image-494" title="adhoc 2" src="http://anung.sunan-ampel.ac.id/wp-content/uploads/2010/05/adhoc-2-300x168.png" alt="" width="300" height="168" /></a></p>
<p>Masing-masing komputer disikan dengan IP address yang berkelas sama, ada 3 kelas yang dapat digunakan, yakni:</p>
<p>﻿﻿﻿Kelas A:  Jangkauan 10.0.0.0 &#8211; 10.255.255.255</p>
<p>Kelas B: jangkauan 172.16.0.0 &#8211; 172.31.255.255</p>
<p>Kelas C: jangkauan 192.168.0.0 &#8211; 192.168.255.255<br />
Misal kita menggunakan kelas C:<br />
Komputer 1 : 192.168.0.1<br />
Komputer 2 : 192.168.0.2<br />
Komputer 3 : 192.168.0.3 dst<br />
Sedangkan untuk subnet mask diisikan sama untuk semua laptop : 255.255.255.0</p>
<p><a href="http://anung.sunan-ampel.ac.id/wp-content/uploads/2010/05/adhoc-3.png"><img class="aligncenter size-medium wp-image-495" title="adhoc 3" src="http://anung.sunan-ampel.ac.id/wp-content/uploads/2010/05/adhoc-3-300x168.png" alt="" width="300" height="168" /></a><br />
Klik ok</p>
<h3><strong>Membuat Ad hoc conection</strong></h3>
<p>Klik jalur sebagai berikut :Start Menu -&gt;Control Panel-&gt;Control Panel\Network and  Internet\Network and Sharing Center-&gt;klik Manage Wireless Networks</p>
<p>Klik add<br />
Pilih create ad hoc connection</p>
<p><a href="http://anung.sunan-ampel.ac.id/wp-content/uploads/2010/05/adhoc-4.png"><img class="aligncenter size-medium wp-image-496" title="adhoc 4" src="http://anung.sunan-ampel.ac.id/wp-content/uploads/2010/05/adhoc-4-300x168.png" alt="" width="300" height="168" /></a></p>
<p><a href="http://anung.sunan-ampel.ac.id/wp-content/uploads/2010/05/adhoc-5.png"><img class="aligncenter size-medium wp-image-497" title="adhoc 5" src="http://anung.sunan-ampel.ac.id/wp-content/uploads/2010/05/adhoc-5-300x168.png" alt="" width="300" height="168" /></a></p>
<p>Isi Nama jaringan, Security Type isikan: WEP, lalu isi security key dengan 5 sd 13  angka yang unik, maksud unik di sini untuk mudahnya adalah jangan sampai ada 2 angka sama atau 2 atau lebih angka berurutan lalu berhenti atau apapun yang tidak aman. Silahkan diacak. Setelah menentukan password, jangan lupa dicatat dan dibagikan kepada pengguna laptop yang akan melakukan koneksi</p>
<p><a href="http://anung.sunan-ampel.ac.id/wp-content/uploads/2010/05/adhoc-6.png"><img class="aligncenter size-medium wp-image-508" title="adhoc 6" src="http://anung.sunan-ampel.ac.id/wp-content/uploads/2010/05/adhoc-6-300x168.png" alt="" width="300" height="168" /></a><br />
Selanjutnya jika koneksi itu di salah satu laptop host mempunyai koneksi internet, maka wizard akan bertanya apakah koneksi internet itu akan disharing atau tidak, anda bebas memilih.</p>
<p>Jika ternyata anda saat itu keliru memilih untuk tidak disharing tapi anda ingin melakukan sharing internet, maka sebelum koneksi dilakuakn, maka nyalakan sharing mengikuti patch Start Menu -&gt;Control Panel-&gt;Control Panel\Network and  Internet\Network and Sharing Center-&gt;klik Change Adapter Setting..lalu klik kanan Wireless Network Connection ..pilih properties&#8230;pilih tab sharing, dan contreng pilihan paling atas<a href="http://anung.sunan-ampel.ac.id/wp-content/uploads/2010/05/capture7.png"><img class="aligncenter size-medium wp-image-532" title="capture7" src="http://anung.sunan-ampel.ac.id/wp-content/uploads/2010/05/capture7-238x300.png" alt="" width="238" height="300" /></a><br />
Langkah membuat koneksi sudah selesai, masing-masing laptop tinggal melakukan koneksi di wireless network seperti biasa, tentu saja dengan memasukkan security password yang telah dibagi tadi</p>
<h3>Melakukan sharing files and Folder</h3>
<p>Cukup klik kanan folder yang akan disharing, lalu klik share with, lalu klik specifik people<br />
<a href="http://anung.sunan-ampel.ac.id/wp-content/uploads/2010/05/sharing-folder-1.png"><img class="aligncenter size-medium wp-image-498" title="sharing folder 1" src="http://anung.sunan-ampel.ac.id/wp-content/uploads/2010/05/sharing-folder-1-300x168.png" alt="" width="300" height="168" /></a></p>
<p>Pada drop down pilihan, pilih everyone dan klik add<br />
Lalu klik share.</p>
<p><a href="http://anung.sunan-ampel.ac.id/wp-content/uploads/2010/05/sharing-folder-21.png"><img class="aligncenter size-medium wp-image-512" title="sharing folder 2" src="http://anung.sunan-ampel.ac.id/wp-content/uploads/2010/05/sharing-folder-21-300x218.png" alt="" width="300" height="218" /></a></p>
<p>Folder tersebut akan tampak jika diakses pada my netwok place oleh pengguna laptop yang ikut koneksi tersebut.<br />
Kegunanan lainnya tentu saja untuk melakukan game online, tapi jangan terlalu berlebihan<br />
Selamat mencoba</p>
<img src="http://anung.sunan-ampel.ac.id/?ak_action=api_record_view&id=476&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anung.sunan-ampel.ac.id/?feed=rss2&amp;p=476</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sang Pemeras dalam Jiwa</title>
		<link>http://anung.sunan-ampel.ac.id/?p=477</link>
		<comments>http://anung.sunan-ampel.ac.id/?p=477#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 May 2010 15:07:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anoenk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Hakikat hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Kepribadian]]></category>
		<category><![CDATA[qona'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anung.sunan-ampel.ac.id/?p=477</guid>
		<description><![CDATA[Contoh kasus 1

Saya mempunyai seorang teman baik sejak SMA. Saat SMA mungkin belum terlalu menuntut kedewasaan, sehingga sehingga saat SMA kenangan lebih mengarah pada sebuah canda, tawa dan suka cita saja. Keadaan mulai berubah ketika kita sudah mulai berpencar satu sama lain dan intensitas pertemuan sudah mulai berkurang.  Di saat kita semakin tumbuh dan mulai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Contoh kasus 1<br />
</strong></p>
<p>Saya mempunyai seorang teman baik sejak SMA. Saat SMA mungkin belum terlalu menuntut kedewasaan, sehingga sehingga saat SMA kenangan lebih mengarah pada sebuah canda, tawa dan suka cita saja. Keadaan mulai berubah ketika kita sudah mulai berpencar satu sama lain dan intensitas pertemuan sudah mulai berkurang.  Di saat kita semakin tumbuh dan mulai wajib untuk menjadi seorang yang makin dewasa, saya malah merasakan bahwa arti pertemanan saya seperti sebuah  &#8220;wadah tumpahan&#8221;  dari dunia yang di buat oleh teman saya tersebut. Ya&#8230;dia memanifestasikan saya sebagai orang yang mengerti akan segala khayalan dan fantasinya, sementara teman-teman lain yang tidak mampu mengikuti dan menanggapi fantasinya langsung dicap sebagai bukan teman yang baik.<span id="more-477"></span></p>
<p>Keadaan mulai bertambah buruk ketika saya sudah lulus kuliah dan bekerja lama di luar kota. Perkembangan sahabat saya sudah tak bisa diikuti sampai akhirnya setelah saya kembali bekerja di kota kelahiran (tempat kami bersama) dan tak lama kemudian saya menikah. Betapa kagetnya saya mengetahui bahwa teman saya tersebut masih menganggur atau tidak melakukan suatu usaha. Dengan kata lain, dalam usia 30-an, belum pernah mengenyam pekerjaan tetap atau membuka suatu usaha. Dari cerita yang disampaikan, ternyata tetap sama. Fantasi yang jauh yang selalu dimunculkan teman saya tersebut ternyata kini menjadi suatu problema dan menemui masalah yang konkrit. Fantasi itu ternyata sekarang telah menjadi suatu prasangka yang merebak jauh dan bercabang ke mana-mana jika ia melakukan sebuah inteview, atau bahkan sekilas ketika melihat suatu obyek dalam pengelihatannya.</p>
<p>Prasangka itu dapat berupa kalimat dalam hati: &#8220;Ah..paling <em>ntar</em> kalau aku diterima pasti aku akan di<em>gini-kan</em>&#8220;, &#8220;Ah..perusahaan semacam ini pasti <em>gak </em>prospek&#8221; dan lain sebagainya. Dan celakanya, segala saran dan nasihat saya tidak bisa dia terima dikarenakan hati dan pikiran belum jernih dalam menerima kebenaran yang saya coba sampaikan. Sampai pada suatu ketika, karena perubahan saya yang dianggap tidak lagi menjadi wadah &#8220;fantasi&#8221; teman saya dan lebih banyak melakukan <em>counter</em> pendapat, maka diputuskan-lah pertemanan saya olehnya, walau sampai saat ini saya berusaha menyambungnya kembali.</p>
<p><strong>Contoh Kasus II</strong></p>
<p>Lain lagi dengan teman saya yang lain. Saat sama-sama duduk di bangku perkuliahan tiada pernah berdiskusi mengenai visi dan misi saat kelak keluar dari dunia perkuliahan. Mungkin hanya hobi olahraga sepak bola yang menjembatani kami untuk berteman. Ketika waktu memisahkan kami di saat saya  lebih dulu lulus kuliah dan teman saya itu masih berjibaku dengan tugas-tugas perkuliahannya. Pada suatu saat saya melanglang buana ke Ibukota untuk bekerja di perusahaan yang menurut opini publik adalah &#8220;mentereng&#8221; padahal tidak seutuhnya benar, tiba-tiba setelah beberapa tahun ia mengirimkan sebuah SMS yang isinya kira-kira seperti ini: &#8220;Selama menjadi karyawan dan bukan menjadi seorang pengusaha, kamu tidak akan mempunyai rumah mewah seperti rumah-rumah di Kemang&#8221;. Mungkin karena kesibukan yang sangat padat, saya tidak menanggapi &#8220;ungkapan&#8221; yang aneh itu (dari sisi maksud dan tujuannya).</p>
<p>Sampai suatu saat setelah lama dari peristiwa itu saya kembali bekerja di Surabaya. Hujan-hujan <em>&#8220;show up&#8221; </em>yang mengarah bahwa ia sebagai pengusaha statusnya &#8220;lebih baik&#8221; dan &#8220;lebih mulia&#8221; dari semua orang yang berstatus karyawan. Profesi karyawan divonis sebagai profesi yang tidak berkelas. Padahal itu hanya sebuah perbedaan arah dan paradigma dalam menilai sebuah kesuksesan. Coba kita simak sebuah status di Facebook yang menunjukkan bahwa semua itu berasal dari titik awal dan paradigma yang sedikit salah tentang arti kesuksesan yang perlu diluruskan sebagai berikut:</p>
<h3>&#8220;teman maupun bukan teman, kenal maupun yang  tidak kenal, biasanya menghargai dan menghormati orang ketika mereka  telah sukses aja. Kalau masih merangkak,masih belum jadi apa-apa, biasanya  dispelekan,dianggap remeh&#8221;</h3>
<p style="text-align: center;">&#8212;&#8212;&#8212;-ooooooo&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p><strong>Sang Pemeras</strong></p>
<p>Ellen Bakke dalam bukunya yang berjudul &#8220;Know Yourself&#8221;  menggambarkan bahwa seseorang mempunyai kemampuan untuk membuat suatu pra-opini yang dapat menjadi sebuah tabir yang mana bisa mengaburkan atau memperjelas pandangan kita terhadap dunia luar. Kemampuan itu jika baik akan menjadi positif, namun sebaliknya jika jelek akan menjadi negatif dan menjelma menjadi &#8220;Sang Pemeras&#8221;. Sang Pemeras bekerja dari dalam dan dari luar diri.  Jika Sang Pemeras bekerja, ia akan membentuk suatu prasangka dalam diri tentang apa yang kira-kira dipikirkan atau akan direspon oleh &#8220;dunia&#8221; luar. Sang Pemeras itu akan mengendalikan diri ini untuk menurutinya dalam berbuat atau untuk merespon apa yang diinformasikannya kepada anda untuk ditunjukkan kepada dunia.</p>
<p>Output yang dihasilkan dari penjajahan sang pemeras jiwa adalah menjauhnya sifat seseorang dari spektrum asertif dan akan mengarahkan orang tersebut mendekati spektrum pesimis atau ke arah spektrum arogan. Kedua Output tersebut telah ditunjukkan dalam kedua kasus di atas. Bayangkan jika misalnya pra opini yang dikembangkan oleh pikiran seseorang itu positif, maka dorongan perbuatan juga akan mengarah ke arah yang positif. Jika misalnya pra opini positif itu menemui sebuah kenyataan yang tidak sesuai, maka seseorang itu akan mengambil hikmah dari peristiwa itu mungkin ada pelajaran yang bisa diambil sebagai tindak lanjut ke depan. Intinya pra opini yang dikembangkannya selalu terus positif.</p>
<p><strong>Tipe Serangan Sang Pemeras</strong></p>
<p>Lain halnya jika pra opini itu negatif dan bahkan menjelma menjadi Sang Pemeras. Maka Sang Pemeras tersebut akan mengontrol anda dari dua arah. Arah yang pertama adalah dorongan dari luar menuju diri anda.  Jika anda membuat opini bahwa orang lain atau dunia luar akan menilai buruk anda jika mereka mengetahui kelemahan anda atau hal buruk yang anda simpan. Dengan opini seperti ini, maka anda akan  berusaha sekuat tenaga menyimpan kelemahan anda dan bersikap protektif agar dunia luar tidak mengetahuinya. Manifestasi yang lain adalah anda sudah menjustifikasi bahwa dunia luar sudah menilai bahwa anda sudah buruk di hadapan mereka, jadi andapun bereaksi apriori pula terhadap dunia luar itu. Jika sang pemeras menyerang anda dari arah ini, maka jadilah seseorang yang kuasainya menjadi pasif atau takut untuk maju.</p>
<p>Arah serangan sang pemeras yang ke-dua adalah menarik diri anda keluar dengan membuat anda beropini bahwa dunia akan mengakui anda jika anda mengikuti apa yang mereka inginkan (tentu saja itu atas dasar opini yang anda bangun sendiri). Seseorang yang terserang Sang Pemeras dari arah ini akan sibuk mengikuti kata dunia (yang dia opinikan sendiri). Serangan Sang Pemeras tipe seperti ini sebenarnya sudah ada sejak kita masih kanak-kanak hingga kita menghembuskan nafas terakhir. Cobalah renungkan serangan Sang Pemeras yang muncul dari pertanyaan-pertanyaan yang mengarah ke kita sejak kecil sebagai berikut:</p>
<p>- &#8220;Ayah kerja di mana?&#8221;</p>
<p>- &#8221; Sekolah di mana?&#8221;</p>
<p>- &#8221; Rangking berapa?&#8221;</p>
<p>- &#8221; diberi uang saku berapa?&#8221;</p>
<p>-&#8221; dikuliahkan di mana?&#8217;</p>
<p>-&#8221; Sudah menikah atau belum?&#8221;</p>
<p>&#8216;&#8221; Anak berapa?&#8221;</p>
<p>-&#8221; Sudah tinggal di rumah sendiri atau mertua?&#8221;</p>
<p>-&#8221; Cucu berapa?&#8221;</p>
<p>Dan jika seseorang terjajah oleh sang pemeras dengan tipe serangan seperti ini, maka ia akan sibuk untuk bergelut dan mencarikan jawaban yang pantas untuk dijawabkan atau ditunjukkan kepada dunia yang kita opinikan menuntut kita untuk menunjukkan kepadanya secara pantas. Jika saja kita berhasil terus melayaninya, mungkin tidak terlalu berdampak buruk. Tapi ternyata kita gagal terus untuk menunjukkan jawaban yang menurut kita pantas, maka bisa dibayangkan betapa tersiksanya hidup kita.</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Sedikit gambaran yang saya ketahui dalam ranah psikologi tersebut semoga memberikan manfaat dan pencerahan. Dalam menjalani kehidupan ini telah banyak konsep-konsep yang ditawarkan dan saya pribadi menilainya cukup baik untuk diaplikasikan. Mulai dari konsep inti yang diajarkan Islam yakni keikhlasan, sabar, syukur, dan tawakal. Kemudian berkembang ke dalam kajian yang mendalam dan spesifik seperti sifat qona&#8217;ah, konsep IESQ, atau kajian Quantum Ikhlas. Kesemua kajian modern tersebut adalah penjabaran dari sumber yang sama, jadi tidaklah perlu diperdebatkan mana yang baik karena muaranya adalah pembentukan akhlak/pribadi yang baik</p>
<p>Wassalam</p>
<img src="http://anung.sunan-ampel.ac.id/?ak_action=api_record_view&id=477&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anung.sunan-ampel.ac.id/?feed=rss2&amp;p=477</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
