Menanti Buah yang Ranum dari Sebuah Pohon
Salah satu cara untuk membuat suatu penjelasan tentang model atau proses adalah dengan membuat analogi atau perumpamaan. Dalam Al-Qur’an Allah juga menggunakan perumpamaan sebagai metodologi untuk penjelasan sebuah model dan proses. Dengan menggunakan perumpamaan inilah diharapkan seseorang akan dapat memahami , mengerti atau setidaknya membayangkan dan mentransformasi obyek analogi tersebut ke dalam obyek yang sesungguhnya dituju.
Dalam memahami proses dan alur 3 pokok/inti dalam Agama Islam, yakni aqidah, syariah dan akhlak pun akan sangat efektif jika kita menggunakan sebuah analogi sehingga kerangkanya menjadi jelas untuk dipelajari. Analogi Agama Islam itu dapat digambarkan sebagai sebuah pohon yang berbuah ranum. Kenapa digambarkan seperti pohon yang berbuah ranum? Akan kita bahas satu persatu
Aqidah (keimanan) dianalogikan sebagai akar pohon. Semakin kokoh dan menancap ke bawah tanah, maka semakin kuatlah ia menopang tegaknya pohon itu berdiri. Dan sebaliknya jika akar itu rapuh dan tidak menancap ke dalam tanah maka dipastikan bahwa pohon itu agak cepat rubuh jika diterpa angin yang kencang. Akar pohon menyerap zat-zat yang dibutuhkan pohon untuk tumbuh dan berfotosintesis. Jika ia tidak mampu menyerap zat-zat itu, maka pohon itu tidak akan semakin tumbuh dan tidak melakukan fotosintesis untuk menghasilkan zat makanan (buah). Penjelasan dari analogi ini adalah aqidah yang ideal adalah bahwa aqidah harus kuat, supaya sang pelaku (manusia) tidak goncang dan terjerumus jika mendapatkan cobaan yang kuat (baik itu nikmat atau musibah), sementara untuk itu jika akidah tetap terjaga maka ia akan menyerap nilai-nilai kebenaran yang dibutuhkan manusia dalam kehidupan dan bertingkah laku.
Syariah dianalogikan sebagai kayu, dalam hal ini adalah batang dan ranting. Semakin besar batang maka dapat dipastikan semakin bercabang pula rantingnya. Batang dan ranting adalah penyalur zat makanan yang diserap oleh akar untuk dibawa ke daun untuk proses fotosintesis. Proses penyaluran ini jika ada gangguan, maka akan timbul distorsi dan mengganggu fotosintesis, sehingga buah yang dihasilkannya bisa jelek kualitasnya. Analogi ini dapat digambarkan bahwa untuk menindaklanjuti akidah yang menerima kebenaran, maka diperlukan saluran pelaksanaan yang sudah tersistem, yakni syariah. Jika syariah tidak dilaksanakan dengan baik, maka akan terjadi kekacauan terhadap proses yang diterima aqidah untuk membuat pelaku agama Islam (manusia) itu bertingkah laku.
Akhlak dianalogikan sebagi buah ranum yang dihasilkan pohon tersebut. Jika pohon yang telah ditanam dan ditunggu hasilnya ternyata tidak menghasilkan buah atau menghasikan buah namun dalamnya busuk, apalah artinya. Demikian pula dengan Agama Islam. Selama seseorang belum mempunyai akhlak yang baik dalam kesehariannya, maka dapat dikatakan belumlah selesai ia melakukan proses yang koprehensif dalam agamanya.
Proses yang komprehensif dalam menghasilkan buah ini yang seyogyanya tidak bisa dilihat dari penampilan yang tampak bagus dari akar atau batang dan ranting. Proses itu kesemuanya dapat tersamarkan. Di dalam sebuah batang atau ranting, akan sangat sulit melihat apakah di dalamnya ada hama atau parasit. konsep inilah yang menggambarkan bahwa pengakuan keimanan dan pelaksanaan syariah sangat susah untuk dilihat. Kesemuanya itu dapat tertutupi oleh sifat Riya, Dengki, Niat yang jelek dan lain-lain.
Jadi apa yang sebenarnya ditunggu dari Agama Islam adalah akhlak atau moral yang baik. Karena moral yang baiklah yang akan mendatangkan manfaat bagi masyarakat di sekelilingnya. Cukuplah kita bicara tentang pengakuan keimanan atau entengnya kita mengucapkan “hanya kepada Allah”. Cukuplah kita berdebat mana syariah yang paling benar. Cukuplah kita hanya menyanjung bacaan indah Al-Qur’an kita, tanpa mengkaji dan melaksanakan isinya. Cukuplah kita melihat banyaknya kebenaran yang ditutupi atau dikaburkan. Apa yang sebenarnya kita tunggu adalah…….. buah yang ranum yang dinamakan akhlak/moral yang baik.





Analogi yang menarik dan sarat hikmah, Pak…
Dan dengan analogi di atas, akan lebih dimengerti ketimbang memahami ketiga dimensi pilar Islam itu hanya dengan proses doktrinasi yag kadang kering analogi…
kapaaaan buahku ranum ya mas? lha akhlakku ndak sip blas…