Sang Pemeras dalam Jiwa
Contoh kasus 1
Saya mempunyai seorang teman baik sejak SMA. Saat SMA mungkin belum terlalu menuntut kedewasaan, sehingga sehingga saat SMA kenangan lebih mengarah pada sebuah canda, tawa dan suka cita saja. Keadaan mulai berubah ketika kita sudah mulai berpencar satu sama lain dan intensitas pertemuan sudah mulai berkurang. Di saat kita semakin tumbuh dan mulai wajib untuk menjadi seorang yang makin dewasa, saya malah merasakan bahwa arti pertemanan saya seperti sebuah “wadah tumpahan” dari dunia yang di buat oleh teman saya tersebut. Ya…dia memanifestasikan saya sebagai orang yang mengerti akan segala khayalan dan fantasinya, sementara teman-teman lain yang tidak mampu mengikuti dan menanggapi fantasinya langsung dicap sebagai bukan teman yang baik.
Keadaan mulai bertambah buruk ketika saya sudah lulus kuliah dan bekerja lama di luar kota. Perkembangan sahabat saya sudah tak bisa diikuti sampai akhirnya setelah saya kembali bekerja di kota kelahiran (tempat kami bersama) dan tak lama kemudian saya menikah. Betapa kagetnya saya mengetahui bahwa teman saya tersebut masih menganggur atau tidak melakukan suatu usaha. Dengan kata lain, dalam usia 30-an, belum pernah mengenyam pekerjaan tetap atau membuka suatu usaha. Dari cerita yang disampaikan, ternyata tetap sama. Fantasi yang jauh yang selalu dimunculkan teman saya tersebut ternyata kini menjadi suatu problema dan menemui masalah yang konkrit. Fantasi itu ternyata sekarang telah menjadi suatu prasangka yang merebak jauh dan bercabang ke mana-mana jika ia melakukan sebuah inteview, atau bahkan sekilas ketika melihat suatu obyek dalam pengelihatannya.
Prasangka itu dapat berupa kalimat dalam hati: “Ah..paling ntar kalau aku diterima pasti aku akan digini-kan“, “Ah..perusahaan semacam ini pasti gak prospek” dan lain sebagainya. Dan celakanya, segala saran dan nasihat saya tidak bisa dia terima dikarenakan hati dan pikiran belum jernih dalam menerima kebenaran yang saya coba sampaikan. Sampai pada suatu ketika, karena perubahan saya yang dianggap tidak lagi menjadi wadah “fantasi” teman saya dan lebih banyak melakukan counter pendapat, maka diputuskan-lah pertemanan saya olehnya, walau sampai saat ini saya berusaha menyambungnya kembali.
Contoh Kasus II
Lain lagi dengan teman saya yang lain. Saat sama-sama duduk di bangku perkuliahan tiada pernah berdiskusi mengenai visi dan misi saat kelak keluar dari dunia perkuliahan. Mungkin hanya hobi olahraga sepak bola yang menjembatani kami untuk berteman. Ketika waktu memisahkan kami di saat saya lebih dulu lulus kuliah dan teman saya itu masih berjibaku dengan tugas-tugas perkuliahannya. Pada suatu saat saya melanglang buana ke Ibukota untuk bekerja di perusahaan yang menurut opini publik adalah “mentereng” padahal tidak seutuhnya benar, tiba-tiba setelah beberapa tahun ia mengirimkan sebuah SMS yang isinya kira-kira seperti ini: “Selama menjadi karyawan dan bukan menjadi seorang pengusaha, kamu tidak akan mempunyai rumah mewah seperti rumah-rumah di Kemang”. Mungkin karena kesibukan yang sangat padat, saya tidak menanggapi “ungkapan” yang aneh itu (dari sisi maksud dan tujuannya).
Sampai suatu saat setelah lama dari peristiwa itu saya kembali bekerja di Surabaya. Hujan-hujan “show up” yang mengarah bahwa ia sebagai pengusaha statusnya “lebih baik” dan “lebih mulia” dari semua orang yang berstatus karyawan. Profesi karyawan divonis sebagai profesi yang tidak berkelas. Padahal itu hanya sebuah perbedaan arah dan paradigma dalam menilai sebuah kesuksesan. Coba kita simak sebuah status di Facebook yang menunjukkan bahwa semua itu berasal dari titik awal dan paradigma yang sedikit salah tentang arti kesuksesan yang perlu diluruskan sebagai berikut:
“teman maupun bukan teman, kenal maupun yang tidak kenal, biasanya menghargai dan menghormati orang ketika mereka telah sukses aja. Kalau masih merangkak,masih belum jadi apa-apa, biasanya dispelekan,dianggap remeh”
———-ooooooo————
Sang Pemeras
Ellen Bakke dalam bukunya yang berjudul “Know Yourself” menggambarkan bahwa seseorang mempunyai kemampuan untuk membuat suatu pra-opini yang dapat menjadi sebuah tabir yang mana bisa mengaburkan atau memperjelas pandangan kita terhadap dunia luar. Kemampuan itu jika baik akan menjadi positif, namun sebaliknya jika jelek akan menjadi negatif dan menjelma menjadi “Sang Pemeras”. Sang Pemeras bekerja dari dalam dan dari luar diri. Jika Sang Pemeras bekerja, ia akan membentuk suatu prasangka dalam diri tentang apa yang kira-kira dipikirkan atau akan direspon oleh “dunia” luar. Sang Pemeras itu akan mengendalikan diri ini untuk menurutinya dalam berbuat atau untuk merespon apa yang diinformasikannya kepada anda untuk ditunjukkan kepada dunia.
Output yang dihasilkan dari penjajahan sang pemeras jiwa adalah menjauhnya sifat seseorang dari spektrum asertif dan akan mengarahkan orang tersebut mendekati spektrum pesimis atau ke arah spektrum arogan. Kedua Output tersebut telah ditunjukkan dalam kedua kasus di atas. Bayangkan jika misalnya pra opini yang dikembangkan oleh pikiran seseorang itu positif, maka dorongan perbuatan juga akan mengarah ke arah yang positif. Jika misalnya pra opini positif itu menemui sebuah kenyataan yang tidak sesuai, maka seseorang itu akan mengambil hikmah dari peristiwa itu mungkin ada pelajaran yang bisa diambil sebagai tindak lanjut ke depan. Intinya pra opini yang dikembangkannya selalu terus positif.
Tipe Serangan Sang Pemeras
Lain halnya jika pra opini itu negatif dan bahkan menjelma menjadi Sang Pemeras. Maka Sang Pemeras tersebut akan mengontrol anda dari dua arah. Arah yang pertama adalah dorongan dari luar menuju diri anda. Jika anda membuat opini bahwa orang lain atau dunia luar akan menilai buruk anda jika mereka mengetahui kelemahan anda atau hal buruk yang anda simpan. Dengan opini seperti ini, maka anda akan berusaha sekuat tenaga menyimpan kelemahan anda dan bersikap protektif agar dunia luar tidak mengetahuinya. Manifestasi yang lain adalah anda sudah menjustifikasi bahwa dunia luar sudah menilai bahwa anda sudah buruk di hadapan mereka, jadi andapun bereaksi apriori pula terhadap dunia luar itu. Jika sang pemeras menyerang anda dari arah ini, maka jadilah seseorang yang kuasainya menjadi pasif atau takut untuk maju.
Arah serangan sang pemeras yang ke-dua adalah menarik diri anda keluar dengan membuat anda beropini bahwa dunia akan mengakui anda jika anda mengikuti apa yang mereka inginkan (tentu saja itu atas dasar opini yang anda bangun sendiri). Seseorang yang terserang Sang Pemeras dari arah ini akan sibuk mengikuti kata dunia (yang dia opinikan sendiri). Serangan Sang Pemeras tipe seperti ini sebenarnya sudah ada sejak kita masih kanak-kanak hingga kita menghembuskan nafas terakhir. Cobalah renungkan serangan Sang Pemeras yang muncul dari pertanyaan-pertanyaan yang mengarah ke kita sejak kecil sebagai berikut:
- “Ayah kerja di mana?”
- ” Sekolah di mana?”
- ” Rangking berapa?”
- ” diberi uang saku berapa?”
-” dikuliahkan di mana?’
-” Sudah menikah atau belum?”
‘” Anak berapa?”
-” Sudah tinggal di rumah sendiri atau mertua?”
-” Cucu berapa?”
Dan jika seseorang terjajah oleh sang pemeras dengan tipe serangan seperti ini, maka ia akan sibuk untuk bergelut dan mencarikan jawaban yang pantas untuk dijawabkan atau ditunjukkan kepada dunia yang kita opinikan menuntut kita untuk menunjukkan kepadanya secara pantas. Jika saja kita berhasil terus melayaninya, mungkin tidak terlalu berdampak buruk. Tapi ternyata kita gagal terus untuk menunjukkan jawaban yang menurut kita pantas, maka bisa dibayangkan betapa tersiksanya hidup kita.
Penutup
Sedikit gambaran yang saya ketahui dalam ranah psikologi tersebut semoga memberikan manfaat dan pencerahan. Dalam menjalani kehidupan ini telah banyak konsep-konsep yang ditawarkan dan saya pribadi menilainya cukup baik untuk diaplikasikan. Mulai dari konsep inti yang diajarkan Islam yakni keikhlasan, sabar, syukur, dan tawakal. Kemudian berkembang ke dalam kajian yang mendalam dan spesifik seperti sifat qona’ah, konsep IESQ, atau kajian Quantum Ikhlas. Kesemua kajian modern tersebut adalah penjabaran dari sumber yang sama, jadi tidaklah perlu diperdebatkan mana yang baik karena muaranya adalah pembentukan akhlak/pribadi yang baik
Wassalam





Wah, ternyata Pak Anung juga ahli psikologi ya…
Ada banyak hikmah dan pelajaran yang saya dapatkan dari postingan di atas :
1. proses internalisasi nilai-nilai dalam kajian psikologis ternyata bisa “memperhalus” cara pandang, terutama kaitannya dengan persoalan sosial.
2. hidup pada dasarnya adalah persoalan mind set alias pola pikir. barangkali benar kata Pak Ciputra ketika menyampaikan materi tentang interpreuner di Hotel Sangri La bebarapa tahun yang lalu, bahwa kesuksesan seseorang berawal dari pola pikirnya…
3. ternyata pak Anung seorang Ekonom yang juga ahli psikologi..hehe. Piss!
Terima kasih…saya bukan ekonom atau ahli psikologi, tapi hanya sekedar sharing pengetahuan dari apa yang saya ketahui dan baik untuk di-sharing. Semoga bermanfaat