[close]
Lebih jauh...

Bekal Hidup: Sabar dan Syukur

Dua kata di atas merupakan kata yang sering diucapkan dan disarankan  jika seseorang mendapatkan nikmat atau musibah. Sesungguhnya dua kata itu adalah pasangan sikap yang digolongkan sebagai salah satu bekal hidup seorang muslim dalam mengarungi kehidupan. Namun sering kali kedua kata itu mengalami banyak pengurangan makna sehingga artinya menyempit. Dengan membawa arti yang telah menyempit itu, seseorang menjadi lupa akan fungsinya sebagai bekal hidup, padahal hidup  itulah sebenar-benarnya cobaan. Jika nafas terakhir telah dihembuskan, maka cobaan itu baru telah berakhir. Jika hidup itu merupakan cobaan, maka cobaan dalam kehidupan itu sebenar-benarnya terdiri dari dua bagian pula, yakni sesuatu yang tidak mengenakkan yakni musibah, dan sesuatu yang mengenakkan yakni nikmat. Sebenar-sebenarnya diantara keduanya, nikmat itu selalu tak terputus dalam kehidupan, salah satu contoh saja: selama hidup tentu hampir tak terputus kenikmatan yang sangat dekat dengan kelopak mata kita,...
August 16 2010   Posted Under: Renungan

Sang Pemeras dalam Jiwa

Sang Pemeras dalam Jiwa

Contoh kasus 1

Saya mempunyai seorang teman baik sejak SMA. Saat SMA mungkin belum terlalu menuntut kedewasaan, sehingga sehingga saat SMA kenangan lebih mengarah pada sebuah canda, tawa dan suka cita saja. Keadaan mulai berubah ketika kita sudah mulai berpencar satu sama lain dan intensitas pertemuan sudah mulai berkurang.  Di saat kita semakin tumbuh dan mulai wajib untuk menjadi seorang yang makin dewasa, saya malah merasakan bahwa arti pertemanan saya seperti sebuah  “wadah tumpahan”  dari dunia yang di buat oleh teman saya tersebut. Ya…dia memanifestasikan saya sebagai orang yang mengerti akan segala khayalan dan fantasinya, sementara teman-teman lain yang tidak mampu mengikuti dan menanggapi fantasinya langsung dicap sebagai bukan teman yang baik.

Bookmark and Share
Baca selengkapnya May 17, 2010   Posted Under: Pengalaman, Renungan

Filosofi Saluran Air dalam Infak

Filosofi Saluran Air dalam Infak

Kemudahan mencari rezeki atau nafkah adalah topik yang paling sering dicari dan ditanyakan khalayak kepada pada ustadz atau dalam media lain. Kebanyakan dari jawaban itu adalah sama, yakni agar rajin berinfak/bersedekah.  Di antara berbagai banyak kajian-kajian mengenai kausalitas antara kemudahan nafkah dengan infak itu, terdapat sebuah filosofi yang sangat menarik untuk dikaji.

Nafkah, yang merupakan hal yang sangat dicari oleh manusia dalam hidup mempunyai akar kata yang sama dalam bahasa Arab dengan infaq. Jika diartikan secara bebas, nafkah berarti rezeki yang didapatkan, sedangkan infak adalah rezeki yang diberikan kepada orang lain. keduanya berasal dari kata nafaqa dalam bahasa Arab.

Yang patut dicermati adalah Bahasa Arab menyebutkan sebuah terowongan, terusan, selokan, atau saluran air dengan kata nafaq. Jika diperdalam dan dipelajari lagi adalah bahwa sebuah saluran air yang baik adalah kedua lubangnya tidak tersumbat, airnya mengalir dengan lancar. Sedangkan sebuah saluran air yang buruk adalah kedua lubangnya tersumbat, dan airnya tidak mengalir. Jika saluran air itu lancar, maka dapat dipastikan saluran air itu lebih cenderung tidak menimbulkan penyakit, tidak dihuni jentik nyamuk, tidak menimbulkan bau busuk. Bandingkan jika saluran air itu tidak lancar beragam penyakit dan musibah siap untuk menyerang manusia yang dekat dengan saluran air itu, mulai dari demam berdarah sampai bencana banjir.

Bookmark and Share
Baca selengkapnya April 27, 2010   Posted Under: Khasanah

Menanti Buah yang Ranum dari Sebuah Pohon

Menanti Buah yang Ranum dari Sebuah Pohon

Salah satu cara untuk membuat suatu penjelasan tentang model atau proses adalah dengan membuat analogi atau perumpamaan. Dalam Al-Qur’an Allah juga menggunakan perumpamaan sebagai metodologi untuk penjelasan sebuah model dan proses. Dengan menggunakan perumpamaan inilah diharapkan seseorang akan dapat memahami , mengerti atau setidaknya membayangkan dan mentransformasi obyek analogi tersebut ke dalam obyek yang sesungguhnya dituju.

Dalam memahami proses dan alur 3 pokok/inti dalam Agama Islam, yakni aqidah, syariah dan akhlak pun akan sangat efektif jika kita menggunakan sebuah analogi sehingga kerangkanya menjadi jelas untuk dipelajari. Analogi Agama Islam itu dapat digambarkan sebagai sebuah pohon yang berbuah ranum. Kenapa digambarkan seperti pohon yang berbuah ranum? Akan kita bahas satu persatu

Bookmark and Share
Baca selengkapnya April 18, 2010   Posted Under: Renungan

Mengenal arti sebuah kata: “Kebenaran”

Mengenal arti sebuah kata: “Kebenaran”

Sering kali kita melihat banyak suatu perdebatan atau bantah-membantah. Dengan semakin canggihnya media komunikasi dan semakin aktualnya pemberitaan media, maka banyak perdebatan akan semakin tampak jelas dan dapat langsung dilihat. Karena begitu transparannya kejadian itu, maka tiap-tiap orang yang berdebat menyiapkan sebuah kebenaran untuk ditunjukkan supaya opini orang yang melihatnya setuju dengan kebenaran yang disampaikannya. Kebenaran…itulah sebenarnya sering menjadi obyek suatu perdebatan, yakni mencari sebuah kebenaran yang paling benar. Suatu perdebatan itu terjadi dan sering kali tidak selesai hakikatnya adalah pihak-pihak yang berdebat merasa kebenaran yang mereka sampaikan adalah kebenaran yang hakiki atau yang paling benar. Pertanyaan yang mendasar yang perlu disampaikan adalah: kebenaran yang dibawa itu kebenaran apa, dari mana, dan untuk tujuan apa? Karena semakin sedikitnya manusia yang tidak mengerti arti kata “kebenaran” maka terjadilah kekacauan di dunia ini

Arti sebuah kebenaran

Sebenarnya, arti secara verbal kebenaran menurut Aristoteles sudah cukup tepat. Aristoteles mendefinisikan kebenaran adalah soal kesesuaian antara apa yang diklaim sebagai diketahui dengan kenyataan yang sebenarnya. Benar dan salah adalah soal sesuai tidaknya apa yang dikatakan dengan kenyataan sebagaimana adanya. Kebenaran terletak pada kesesuaian antara subyek dan obyek yaitu apa yang diketahui subyek dan realitas sebagaimana adanya.

Namun definisi tersebut masih mengandung sesuatu yang tetap bisa mengundang perdebatan demi perdebatan, karena definisi kenyataan masih kabur jika pendifinisan kenyataan tersebut juga belum mutlak. Jadi definisi ini bisa berjalan jika obyeknya telah digariskan definisinya (dalam konteks ini adalah baik-buruk) untuk diterima secara mutlak oleh subyek. Artinya subyek dan obyeknya harus mempunyai sumber yang sama

Bookmark and Share
Baca selengkapnya April 11, 2010   Posted Under: Renungan
Page 2 of 712345...Last »