Mengurangi Takaran & Timbangan (Plus Mengoplos): Korupsi dan Dosa Besar Masyarakat Kecil yang diabaikan
Setelah lebih dari 10 tahun era reformasi di Indonesia, kasus korupsi masih merupakan persoalan pelik untuk diberantas. Bahkan modus operandi korupsi seperti layaknya disiplin ilmu manajemen yang merupakan seni yang sangat dinamis. Jadi, kemampuan para koruptor untuk berkorupsi juga semakin canggih, bahkan selangkah lebih maju dibandingkan pemberantasannya.
Sekarang cobalah kita alihkan perhatian kita sejenak dari pemberitaan pertarungan antara pemberantas korupsi dengan para koruptor. Cobalah acuhkan sebentar perhatian kita dari headline-headline berita tentang kriminalisasi pimpinan KPK, kasus century, dan korupsi pajak yang dilakukan Gayus Tambunan yang saat tulisan ini dibuat ditenggarai akan menyeret oknum-oknum di instansi lain. Sekarang, cobalah alihkan pandangan kita para kehidupan masyarakat di sekitar kita.
Jika tiap akhir pekan anda sempat melihat sebuah segment dalam sebuah acara berita di satu televisi swasta, tentu anda akan mengetahui banyaknya kasus-kasus kecurangan dalam perniagaan masyarakat kecil. Banyak kasus yang membuat kita sedikit bergidik, contohnya saja kasus daging glonggong, yakni daging sapi atau ayam yang disuntik dengan air agar beratnya bertambah. Belum lagi Daging Sapi yang dioplos dengan daging celeng , saus tomat yang dioplos pepaya busuk, ikan yang dicampur formalin. Jika dirunut lagi maka akan ditemui tindakan-tindakan yang semakin membahayakan para konsumen seperti kosmetik atau obat-obatan palsu yang membahayakan penggunanya.
Secuil Ekonomi Islam: Jalur Infak yang memberantas kemiskinan
Saat mempelajari teori ekonomi pembangunan, saya sempat mengenal suatu teori yang sangat populer dan sangat tidak asing disebut. Teori itu disebut Trickle Down Effect. Teori ini lahir dari aliran kapitalisme yang dulu sangat diagung-agungkan oleh pemerintahan orde baru. Teori ini menjelaskan tentang bagaimana sebuah pertumbuhan akan berdampak pada kemakmuran sebuah negara.
Dalam teori ini, kemakmuran akan dapat tercapai dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tanpa perlu memperhitungkan pemerataan ekonomi. Dalam pandangan teori ini, suatu suntikan ekspansi ekonomi akan berdampak pada multiplier effect terhadap pelaku ekonomi di bawahnya, sehingga akan berimbas pada kemakmuran. Sebagai contoh pembangunan sektor konstruksi akan terimbas dampak positif jasa kontraktor langsung, produsen dan pedagang besi, produsen dan pedagang semen, pasir dan seterusnya. Bahasa lebih sederhananya lagi, teori ini mengibaratkan bahwa kemakmuran bagaikan tetesan air yang akan merata jika diteteskan dari atas akan menetes sampai ke bawah.
Mengupas sedikit tentang Model Perekrutan calon karyawan/SDM ideal
Ada pengalaman menarik mengenai perekrutan lowongan pekerjaan atau calon SDM. Tahun 2002, kira-kira 2 minggu setelah kelulusan saya dari jurusan ekonomi pembangunan universitas Airlangga. Saat itu saya pertama kali menjalani tes perekrutan di salah satu perusahaan besar di Indonesia. Penyaringan SDM itu dilakukan dengan metode “jemput bola”, yakni para anggota perekrutan datang ke kampus-kampus. Perekrutan tersebut dilakukan dengan maraton dalam jangka waktu seminggu menghasilkan calon-calon karyawan yang tinggal diinterview oleh user sebagai bakal pengguna calon karyawan ini jika memang diterima.
Tobat Pembunuh 100 Jiwa
Dari Abu Sa’id al Khudri diriwayatkan bahwa Nabi s.a.w bercerita:
Dahulu sebelum kalian, ada seorang pemuda yang telah membunuh 99 nyawa. Ia kemudian mencari orang alim, dan ditunjukkan kepadanya seorang pendeta. Iapun mendatanginya. Ia mengatakan kepada si pendeta bahwa dirinya telah membunuh 99 jiwa orang dan menanyakan apakah masih bisa bertobat? Pendeta menjawab, “Tidak”. Pemuda itu segera membunuh si pendeta, dan korbannya pun menjadi 100 jiwa.
Setelah itu, pemuda tersebut mencari seorang alim lagi, dan ditunjukkan kepadanya seorang yang alim. Kepada orang alim itu ia menceritakan bahwa dirinya telah membunuh 100 jiwa. Apa ada kesempatan bertobat? Orang alim itu menjawab,” Tentu! Siapa yang bisa menghalangimu untuk bertobat? Pergilah engkau ke tempat itu– orang alim itu menunjukkan suatu tempat–karena di sana orang-orang melakukan ibadah kepada Allah Swt. Beribadahlah bersama mereka. Janganlah engkau kembali ke negerimu, sebab negerimu adalah tempat yang buruk.” Pemuda itu pun pergi. Namun, tatkala ia berada di tengah perjalanan, maut menjemputnya.




